Untitle

| Selasa, 27 Mei 2014 | |

Ini hebat. Saya tak pernah benar-benar berhenti menangis selama 4 bulan belakangan ini. Ingatan itu, kenangan itu selalu membuat hati saya sendu. Pilu rasanya, ketika rindu datang namun orang yang saya rindukan tak pernah sekali pun peduli. Kelu rasanya, ketika mimpi menerkam namun orang yang saya impikan tak pernah ingin tahu. Entah apa ini namanya, mencinta atau menyakiti, yang saya alami sekarang hanyalah kesendirian.
Saat saya terbangun hingga saya tertidur kembali hanya ada satu nama yang saya pedulikan. Dia yang selalu membuat saya menangis pasca kejadian itu. Baru kali ini saya setidakpercayadiri ini, saya tidak merasa berharga sama sekali, saya tidak punya sisi cantik sedikit pun.
Kenapa saya harus mengenalnya? Kenapa saya sesakit hati ini? Kenapa saya begitu mengharapkannya? Kenapa saya yang disia-siakan? Kenapa harus saya? Kenapa???
Sulit sekali mengembalikan mental yang terlanjur jatuh bahkan hancur. Setiap malam, saya selalu berdoa yang terbaik untuknya, semoga ia mendapatkan apa yang ia inginkan. Tapi, di satu sisi saya tidak bisa mengontrol pikiran saya yang brutal, pikiran bahwa ia mungkin bersama orang lain, menghubungi perempuan lain, mendekati seseorang yang tidak saya ketahui. Apa jadinya perasaan ini? Saya tidak bisa mengatur hati saya agar tetap baik-baik saja, saya selalu menangis, selalu. Saya kesulitan dengan semua ini, 4 bulan bukan waktu yang normal untuk selalu bersedih. Banyak hal yang bisa saya lakukan, tapi saya tidak mampu mengatur perasaan saya, ingatan saya untuk tidak menghiraukan kemungkinan dia kembali. Harapan yang mustahil, harapan yang menjatuhkan, harapan yang selalu membuat saya bertahan untuk menyakiti diri sendiri. Ingin saya tukar perasaan ini dengannya, saya pun ingin merasakan apa yang ia rasakan sekarang. Hati pergi semudah itu, mencampakkan segampang itu, menemukan yang lebih baik tanpa memerlukan waktu yang panjang. Ternyata hidup seorang manusia bisa sedatar itu, semulus itu, sebaik-baik itu.
Saya marah terlebih kecewa. Saya tak percaya bisa mengalami fase sedramatis ini: saya menyukai seseorang, orang itu seolah-olah memberi harapan namun pada kenyataannya dia pergi memilih orang lain tanpa sedikit pun penjelasan.
Hingga hari ini, saya masih memerhatikannya. Dia terlihat baik-baik saja, terlihat begitu ceria. Senangnya jadi dia bisa mendapatkan apapun maunya hanya dengan sedikit perjuangan  saja.
Saya bodoh, saya tahu itu. Bahkan saya terlalu malu untuk mencurahkan hati pada teman-teman saya tentang semua ini. Mereka menganggap perasaan ini enteng tapi saya sedang mengalaminya. Saya sedang membangun sesuatu yang telah runtuh, saya tidak percaya diri sama sekali, kau tahu??? Terpaksa saya pendam sendiri, saya lumat sendiri, saya obati sendiri.
Tidak sekarang, tidak esok, tidak juga lusa. Saya tidak mungkin berhenti menangis di hari-hari mendatang. Melewati semuanya dengan susah payah. Rindu selalu ada, harapan ini masih duduk nyaman dan sedih itu akan selalu hadir. Saya tahu, saya lelah. Saya tahu, saya muak. Tapi apa daya, pada akhirnya saya tetap menangis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama
© Design 1/2 a px. · 2015 · Pattern Template by Simzu · © Content - Rida In Wordland -