Selama Hujan
Mulanya pelataran langit menggelap
Awan bergumpal-gumpal tak karuan
Kukira mendung tak berarti menghujan
Tapi logika selalu mengantarkan yang benar
Air melepaskan diri dengan pasrah
Rintik demi rintik melahirkan ingatan
Bumi ini basah, suhu pun jatuh seketika
Udara berselancar dengan santai
Melewati ekor mataku yang juga membasah
Kupunguti potongan memori itu
Memori bergelayutan diantara air yang pecah
Tirai air yang indah sekaligus hebat
Aku merenunginya dengan seksama
Dibalik jendela, kuulur tangan
Menyampaikan jemariku kepada sang hujan
Sekadar mengilhami, sekadar mengingat-ngingat
Oh, dulu aku dengannya pernah seperti di waktu ini
Sembari menunggu hujan, sembari saling memadu cerita
Dia pernah disampingku
Dia pernah membagi bahunya untukku
Sungguh hujan yang manis
Deras hujan tanpa petir
Hanya ada udara dingin, hujan dan kita
Percikan air yang cantik
Satu, dua rintik menempel tak sengaja di rambutmu
Oh, hujan pun mencoba menarik perhatian itu
Tapi apalah arti hujan jika bukan karena kita berdua
Menunggu berakhir atau menunggu lebih lama
Akhirnya di waktu sekarang aku pun sampai
Hinggap harapan jika hujan waktu itu juga hujan waktu ini sama
Aku dan hujan, dia dan hujan
Kita diantara air yang berkilauan lagi, jika bisa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar