Di Waktu Itu
Di waktu itu, aku merasa berada di titik terendah, paling rendah. Aku putus asa, kecewa, marah dan patah arang. Aku tak yakin dengan apa yang kumiliki. Aku tak yakin dengan apa yang harus kujalani. Rasanya sulit tuk temukan jalan keluar. Berjuang sendirian, tersesat dalam masalah-masalah ini terlalu lama. Aku ingin menyerah.
Di waktu itu, aku menangis sesenggukan di dalam kamar. Hanya sedikit cahaya yang menerobos dari sela ventilasi. Gelap dan tidak ada orang yang tahu. Sungguh, aku telah bersabar. Benar, aku telah berusaha tegar. Tapi kini aku lelah, capek dengan masalah-masalah ini. Aku muak.
Di waktu itu, aku ingin menjadi sosok yang lain. Menukar nasib menjadi orang lain. Bahagia, layaknya sebuah hati selalu berharap seperti itu, begitu juga hatiku. Tapi, hidupku tak semerdu dawai, tak seindah Tanah Lot, aku benci ini. Aku lelah mengeluh, aku lelah melihat diriku selalu kesulitan.
Di waktu itu, aku ingin menumpahkan cerita pada seseorang. Bahkan orang yang kubutuhkan pun tak pernah ada. Aku memikul ini sendiri, siapa pun sibuk dengan maunya masing-masing. Tak ada yang peduli, mereka hanya tahu kalau aku terlihat baik-baik saja. Masa bodoh, bagaimana dan seperti apa aku memendam dan meredam perasaan. Mengharapkan sosok pendewasa di waktu itu sangat mustahil.
Di waktu itu, impianku runtuh. Harapan yang selama ini menjadi tonggak pun ambruk seketika. Kesempatan, peluang, bertahan hidup, aku tak butuh itu. Aku hanya ingin dimengerti, dipahami dan berhentilah menawariku hal-hal yang tak pasti. Aku selalu berusaha, tapi mengapa mereka yang mendapatkan segalanya?
Di waktu itu, aku hanya menunggu. Menunggu hatiku lebih sedih lagi, lebih pilu lagi bahkan lebih perih lagi. Aku menunggu segelas air putih dari seseorang. Kupikir hanya dengan segelas air putih dari orang yang betul-betul mengerti keadaanku, sudah sangat cukup. Tapi, hal itu tak pernah ada, tak pernah datang. Mereka semua menutup mata, menutup telinga. Hingga akhirnya aku merasa tak layak untuk hidup. Lalu tanpa sadar aku tertidur karena terlalu lelah menerima, terlalu lelah menunggu, terlalu lelah menangis. Dan kini aku pasrah, benar-benar pasrah dengan semuanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar