Surat Kepada Teman Hidup
Hai, teman hidup
Surat ini kutitip pada waktu, semoga di masa depan surat ini bisa sampai di tanganmu. Seumpama saat itu datang, mungkin kita telah dipertemukan, telah saling mengikat janji atau bahkan hidup bersama. Seumpama saat itu datang, di tiap pagimu akan selalu ada aku. Aku yang berbaring di tempat tidur denganmu, menyiapkan kopi hangat tuk membangunkan tidurmu, menyediakan sarapan kesukaanmu, merapikan pakaianmu sampai membetulkan simpul dasi yang bertengger di kerah bajumu. Aku telah ada di waktu itu.
Surat ini akan kauterima di masa yang tepat. Saat kau jatuh cinta padaku, begitu pula sebaliknya. Saat masa sekarang habis lalu aku dan kamu dirapatkan dalam satu jumpa. Mungkin surat ini bisa kaupahami, kala setelah kita berdua duduk di pelaminan menyalami setiap tamu yang datang. Tidak sampai disitu, barulah setelah aku dan kamu lengkap dengan dia, dia atau mereka yang menjadi anak kita hidup diantara kisah ini, kau akan benar-benar paham. Aku menyuapi, kau mengajaknya bermain, aku mengantarkannya pergi ke sekolah, kau membacakannya dongeng sebelum tidur, aku memasakkannya makanan, kau menggendongnya, aku menciumnya, kau memeluknya: kita menyayangi buah cinta kita. Dan surat ini diperuntukan bagi masa depan, kala waktu itu datang.
Perlu kautahu, aku bukan manusia romantis. Tapi berkatmu, kini aku 'kan berupaya mempersiapkan diri menjadi teman hidupmu yang paling romantis. Dimulai dari surat yang kubuat ini.
Hai teman hidup
Rupanya sedang apa kau sekarang? Duduk bersama perempuan itu? Tak apa, jangan khawatirkan aku. Bahkan kuingin kau belajar mencintainya dengan tulus. Karena ketika surat ini sampai di tanganmu, akan ada aku yang harus kau cintai dengan sangat tulus melebihi dia, dia, dia, atau mereka yang pernah kaucintai sebelumnya.
Rupanya sedang apa kau sekarang? Membagi bahumu untuk perempuan itu?
Tak masalah, jangan risaukan aku. Bahkan kuingin kau belajar menghargai bagaimana dicintai. Karena ketika surat ini kauterima, akan ada aku yang sangat mencintaimu melebihi dia, dia, dia atau mereka yang pernah kucintai sebelumnya.
Saat surat ini kaubaca, mungkin kau sedang duduk di pekarangan rumah sembari minum teh hangat di senja hari, ada aku di sampingmu: kita sedang memerhatikan anak-anak kita yang bersenda gurau.
Tenanglah teman hidup, surat ini pasti sampai padamu.
Aku telah menitipkannya pada yang lebih tahu di waktu mana kita berjodoh: itu waktu. Surat ini akan dijaga baik-baik olehnya. Percayalah!
Hai teman hidup, sampai bertemu di batas sayang.
Aku akan mencintaimu dan selalu mencintaimu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar