#Aku Dan Mereka - Kost 57

| Senin, 18 Februari 2013 | |

Ini tentang aku dan mereka. Mereka adalah Anisa, Ani, Susi, Hana dan Hani. Dengan segala latar belakang, cerita masa lalu, pengalaman, perbedaan umur, hobi dan banyaknya perbedaan sekaligus persamaan ingin sedikit membagi kisah. Menurutku mereka menarik bahkan lebih dari sekedar istimewa.

Kost 57. Itulah sebutan untuk tempat kost-an kami. Semuanya berawal dari sana. Pengenalan yang membuahkan keakraban yang luar biasa sehingga membuatku merasa ‘hidup’ berada jauh dari tempat asal. Mereka membuatku merasa tidak sendiri. Itulah yang berharga.

·         Anisa. Aku biasa memanggilnya ‘Teh Ica’. ‘Teh’ itu berasal dari rumpun bahasa Sunda yang berarti ‘kakak’. Dia adalah orang pertama yang kukenal di kost-an 57. Dia baik, murah senyum, supel, cerewet, parno-an, dan terkadang aneh. Thailand, itulah negara asalnya. Masih dalam naungan universitas yang sama ia fokus memilih Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP). Walaupun ia seorang warga negara asing dengan percikan kental budaya Thailand Melayunya ia dengan beraninya mengambil jurusan bahasa Indonesia. Wow! Bukankah itu menakjubkan?
Tidur dengan memeluk benda aneh adalah kebiasaannya. ‘Apa benda aneh itu?’.  Gulungan handuk kecil yang sudah tak terpakai di bungkus sarung bantal merah bermotif hello kitty. Terkadang dia tak bisa tidur bahkan uring-uringan sendiri jikalau benda itu tak ada di sampingnya. Katanya sih, kebiasaan itu sudah ia lakukan sejak kecil karena sudah merasa hal itu adalah kewajiban maka benda tersebut tidak boleh hilang apalagi sampai disembunyikan (bisa-bisa nangis darah tuh!) :p

·         Ani.  Dia masih satu angkatan denganku. Kamar kami berdekatan hanya terhalang satu ruang saja. Menurutku selain baik dia pun memiliki sifat lain yang kusuka; humoris dan ceria walaupun sedikit di bumbui sifat ngasalnya itu. Tak apalah menurutku itu bukan masalah besar. Tak berbeda dengan Teh Icha ia pun sama mengambil jurusan bahasa Indonesia. Dia asli orang Bekasi. Bahasa Sunda melekat kuat dalam dirinya lantaran itulah bahasa yang ia bawa dari tempat ia berasal. Karena kesibukannya menekuni Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampus khususnya Kopma atau Koperasi Mahasiswa kami sering menyebutnya Ibu Kopma. Kurasa ia memang pantas mendapatkan julukan tersebut.
Selain itu diantara kami, dia adalah orang yang sering terserang penyakit serius anak zaman sekarang atau familiar disebut  ‘Demam Galau’. Beberapa kali ia kepergok menagis lantaran penyakit tersebut  mencapai kronisnya. Ah, sayang sekali kupikir. Tapi akhirnya setelah lama dia pun sembuh dari penyakit itu walaupun kadang-kadang kumat jikalau tidak di ingatkan malah makin parah. Untungnya, kami di kosat-an 57 selalu sigap jika kalau-kalau penyakit itu kambuh. Jadi, siap-siap saja :p

·         Susi. Tak berbeda dengan Ani ia pun satu angkatan denganku. Kamar kami bersebelahan dan sama-sama menghadap barat. Dia memiliki karakter yang unik; baik dan cerewet. Walau agak ceroboh dan keras namun ia memiliki keteguhan serta pendirian yang kuat. Memilih fakultas yang sama dengan Teh Icha dan Ani yaitu Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP) tetapi bukan jurusan bahasa Indonesia melainkan Pendidikan Kewarganegaraan (PKN). Indramayu adalah kota asal berikut tempat kelahirannya. Bahasa Sunda dan Jawa kental sekali dalam setiap percakapannya. Namun ia lebih fasih menggunakan bahasa Jawa. Terkadang kami sering menertawakan kata-kata yang menurut kami aneh atau bahasa yang hanya ia mengerti sendiri. Seperti contoh kata ‘Blenak’. Entah apa maksudnya namun kami sering menjadikan hal itu lelucon ringan sebagai penghibur lara di sela-sela waktu kebersamaan.
Ada alasan mengapa aku menyebutnya ‘unik’. Unik merupakan kata yang diperhalus dan jika kupertegas mungkin lebih tepatnya ‘keanehan’ yang tak pernah kutemukan sepanjang hidup adalah kebiasaan ketika ia merasa sedih. Biasanya mayoritas orang jika merasa sedih ia akan merenung sendiri kemudian menangis atau lari ke makanan dan melahap banyak hidangan atau mendengarkan lagu galau agar semakin dramatis atau tidur sepanjang hari untuk sejenak melupakan. Berbeda dengan Susi ia akan segera menghampiri, mengacak dan mengenakan make up semenor-menornya. Yaaah, tampilannya tak beda jauh seperti ibu-ibu arisan. Untuk mempertajam dandannya ia sering menggunakan lipstik merah terang untuk membalut bibirnya. Bagusnya ia memang menyempatkan diri untuk menangis yah kupikir itulah yang memberi tanda kenormalan untuknya. Tak sampai dua menit ia akan segera memoles wajahnya dengan riasan yang super ‘aduhai’. Kami sering menjulukinya  ‘Susi Si Janda’. Menurutku sangatlah cocok ia mendapatkan julukan itu dan jika boleh ditambahkan akan lebih lengkap ia dijukuki ‘Susi Si Janda Kost-an 57’. Perfekto! :p

·         Hana. Dia adalah saudara kandung Hani. Bukan saudara kandung pada biasanya bahkan mereka memiliki ikatan lebih dari itu. Kembar identik, kupikir. Hana sebagai kakaknya sedangkan Hani adalah adiknya. Untuk menghormati tingkatan senioritas diantara kami aku sering memanggilnya dengan ‘Teh Hana’. Dia berasal dari kota kecil bernama Cilegon, sebelah barat kota Jakarta. Dia baik, rajin, tomboy, simpel dan terlebih cerewet bukan main. Fakultas  Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP) menjadi pilihannya. Akuntansi adalah jurusan yang menurutnya sesuai  dengan dirinya.
Memiliki jeritan yang amat keras apalagi saat tertawa. Seisi kost-an sepertinya sudah terbiasa dengan ledakan tawa Teh Hana. Yang menarik ia memiliki logat bicara yang beda  daripada yang lain. Itulah yang menjadi kekhasan dalam dirinya.

·         Hani. Tak berbeda dengan kakaknya aku pun biasa memanggil ia dengan sebutan ‘Teh Hani’. Sifat umumnya yang hampir sama dengan Teh Hana mungkin disebabkan ikatan kembar identik membuat sifat mereka tak berbeda jauh. Dibalik persamaan fisik dan sifat umum mereka pun memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Teh Hani lebih feminim, memerhatikan fashion, dan kalem dibanding kakaknya. Mungkin di kost-an 57 Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP) sangatlah populer sehingga diantara kami kecuali aku yang mengambil Fakultas Ekonomi (FE). Ia memilih jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) di Universitas kami.
Dikarenakan pengaruh jurusan yang ia ambil makanya tugas kampusnya pun terbilang bukan ‘biasa’. Pernah ia diberi tugas menggambar batik bahkan bila di ingat itu adalah tugas kesenianku di masa SMA. Tidak habis pikir memang namun mungkin itulah proses pembelajaran di jurusan PGSD.

·         Rida. Ya aku sendiri. Menurut sisi pandangku sosok si ‘aku’ ini tak lebih hanyalah seseorang yang pendiam. Menulis adalah kebiasaan rutinku selama ini anggap saja itu hobi dan obsesi terpendam. Tasikmalaya, tempat pertamaku menjejakan kaki di dunia. Seperti yang telah kuungkap tadi Fakultas Ekonomi (FE) adalah keputusannku. Dan jurusan manajemen merupakan alasan mengapa aku memilih fakultas tersebut.

 Uno Game. Permainan kartu yang sedang asik-asiknya kami mainkan hampir setiap malam. Bahkan kami rela bergadang untuk terus-menerus mengocok, mengambil dan menjatuhkan kartu. Sekali-kali kami menggunakan bedak yang dicampur air sebagai tanda kekalahan yang di corengkan ke area wajah. Menyenangkan memang, permainan itu lebih menegaskan akan kesempatan dan keberuntungan dari masing-masing pemainnya.
Sedikit cerita tentang aku dan mereka. Aku  merasa bangga bisa mengenal sosok baru disini, di atas tanah kota Bandung. Tak hanya menemukan persamaan kami pun menemukan perbedaan. Itu yang menjadkani alasan jitu mengapa kami bisa saling menghormati, menghargai, menjaga, memahami, membantu dan mengingatkan satu sama lain. Atas nama penghuni kost-an 57 kami bersorak ‘Cuet-cuet 57’!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama
© Design 1/2 a px. · 2015 · Pattern Template by Simzu · © Content - Rida In Wordland -