#39 Catatan Istimewa
|
Minggu, 03 Februari 2013
|
Seuntai Surat
|
#HerniGustia
Hai. Bagaimana kabarmu? Apa ingatanmu masih menyimpan memori
tentang siapa aku? Mungkinkah kamu tidak melupakanku? Ah, yakin hati ini
bahwasanya dirimu masih mengingatnya. Dengan menulis ini aku hanya ingin
menyampaikan secuil kisah antara kita dan kesan pesan tentangmu. Pengharapan yang
paling besar semoga kamu menyukainya.
Satu bangku. Itulah alasan awal kita untuk bisa saling
mengenal satu sama lain. Pertama bertemu kukira kamu sosok yang lugu dan
pendiam. Ah ternyata setelah akrab banyak kejutan yang aku dapat darimu. Riang,
bawel, dan menyenangkan. Selama setahun kita duduk di bangku yang sama terletak
paling depan dan berhadapan dengan bangku guru. Bisa dibilang enaknya kita
berdua jika guru matematika yang terkenal killer itu memeriksa pekerjaan rumah
murid-muridnya pasti bangku kita lolos dari pemeriksaan. Entah mengapa namun
guru tersebut jarang sekali mendatangi bangku
dihadapannya itu. Mungkin ia percaya bahwa kita memang anak rajin dan pasti
mengerjakan atau lantaran ia malas
memeriksa. Ah apapun alasannya aku dan kamu selalu senang dan bersorak sorai
jikalau bangku kita dilewati begitu saja apalagi bila sedang sial-sialnya lupa
mengerjakan. Dan tak hanya kegembiraan yang kita lalui. Selalu dan selalu
bangku kita menjadi sasaran pertanyaan guru Pelajaran Agama Islam (PAI). Dagdigdug
rasanya tiap pelajaran itu sebab aku dan
kamu harus selalu menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang bisa kapan saja bisa
ditunjuk. Intinya jangan pernah lengah dan melamun harus fokus karena jika
tidak kita akan menjadi santapan pertanyaan guru tersebut. Selain itu, kita
kadang berkooperasi masalah contek-mencontek. Waw, ternyata kamu mahir sekali
dalam hal itu. Walau kadang senewen lantaran letak bangku kita yang bisa
dibilang kurang strategis untuk hal tersebut namun kita melakukannya dengan
rapi tanpa ketahuan. Kamu menjadi teknisinya dan aku sebagai pengawasnya. Hahaha. :D
Akhir dari catatan ini aku ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya
jikalau dirimu telah membacanya sampai selesai. Harapanku semoga bisa mencapai
apapun yang kamu cita-citakan. Kapan dan dimana aku tak tau, mungkin dilain
waktu kita bisa bertemu lagi. Aku selalu mengingatmu semoga kamu pun begitu. Aku
Rida Farida, menciptakan tulisan ini dengan kesungguhan hati agar menjadi catatan
istimewa untuk temanku, kamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar