#Malam Memutuskan
|
Minggu, 17 Februari 2013
|
Cerita Hati
|
Malam yang menyedihkan. Malam yang membawaku ke peristiwa lalu antara kamu dan aku. Kenapa? Ada apa
dengan sikapmu? Ada apa dengan bicaramu? Ada apa dengan hatimu?
Malam kemarin membuatmu begitu berbeda. Lebih kaku, canggung,
dan berbeban. Terbersit pertanyaan dalam hati “Siapa kamu?”. Wujudmu tak
berbeda dengan orang yang kupahami sepanjang waktu ini namun sikapmu membuatku merasa
asing berada di sampingmu. Padahal suasana malam itu penuh harmoni dan romansa
yang dramatis. Angin berjalan-jalan santai di udara yang menyenangkan dan
mendamaikan. Walau keadaan menciptakan suasana tapi hatiku seakan di bekukan
oleh setiap kata yang meluncur tanpa gentar dari mulutmu. “Ada apa?” aku
menanyakan hal itu beberapa kali. Ya, aku rasa beberapa kali bisa di bilang
sepuluh kali. Kamu bergeming dan selalu menolak menatap dua bola matamu yang
meminta pengertian. “Adakah yang salah denganku?” dalam hati aku meminta
jawaban atas pertanyaan itu berharap ada secercah terang kegelisahan atas sikapnya. Dia berada di
dekatku tapi pikirannya berselancar entah kemana. Senyummu samar-samar kulihat
mungkin sedikit dipaksakan, pikirku. Seragu-ragu gerakanmu tiap lirikan serta
tarikan nafasmu menciptakan ribuan tanya bagiku. Bermenit-menit terbunuh begitu
saja membuatku frustasi bukan main.
Kursi yang kita duduki bersama, meja bertengger malas serta
di atasnya ada sebuah pot bunga menatap kita kepayahan. Tempat itu, ya teras rumahku
mulai berbisik mengiba kasihan padaku yang semakin frustasi. Bukan ingin menuntut
penjelasan hanya saja aku ingin lebih dari sekedar mengetahui. Lebih memahami
caramu berpikir dan berpandangan. Aku akan membantu jika kumampu, aku akan berkomentar
jika kubisa, tapi jika semua itu terlalu mengganggumu tak apa jadikan aku pendengar
setia untukmu.
Hingga saatnya kamu membuatku tercengang. Kamu menggeser
badan agar berhadapan tepat denganku. Frustasi menghilang seketika di ganti
kepenasaran dan keanehan yang salah. Pikiranku yang terlalu bernegatif atau
raut wajahmu yang menggambarkan semuanya menjadi negatif? Setiap kata
menjadikanku terlalu bisu. Mulutku bungkam, suara lenyap di makan ketakutan,
dan tubuhku lemas di lumpuhkan kenyataan.
Kamu memutuskan. Kamu
menghilangkan. Kamu menyatakan.
Tidak ada senyum lagi. Saat itu aku berharap kamu akan
segera tersenyum dan berkata semua itu hanyalah lelucon. Tapi tidak. Kamu tetap
seperti itu. Teguh dan meyakinkan. Setidakmengertinya aku padamu atas dua kata
terakhir yang kamu ucap. “Kita putus.”
Belum mampu menanggapi atau menolak diriku tetap membisu
menunggu penjelasan. Perkataanku mati di kerongkongan sebelum kuutarakan
padamu. Tutur kata yang halus namun pernyataan yang menyakitkan. Berharap
sekuat-kuatnya bahwa ini hanya mimpi. Mimpi buruk yang sesegeranya akan buyar
terbangunkan. Semakin aku berharap semakin aku yakin. Ini nyata dan kenyataan.
“Mengapa?”. Pertanyaan yang menuntut alasan. Nafasku begitu
berat sama seperti alunan nafasmu yang tidak lepas. Namun seperti biasa
ketenanganmu selalu bisa di percaya. Air di pelupuk mataku tak tertahan lagi
untuk segera meluncur membasahi pipi. Sejatuh-jatuhnya air mata bersama hatiku
yang hancur bahkan kian remuk tak tersisa. Ingin menjerik sejadi-jadinya namun kesakitan
itu membuatku tak berdaya. Tak mampu mencari-cari kekuatan lagi.
Kamu terus berbicara. Meyakinkanku bahwa akan ada orang yang
lebih pantas mendampingiku. Meyakinkanku bahwa inilah jalan terbaik untuk kita.
Menyakinkanku untuk merelakanmu. Tapi tanpa
di sadari kamu juga meyakinkanku bahwa semua tentang kita hanyalah sampah tidak
berarti dalam hatimu bahkan hidupmu. Tidak ada alasan yang kamu ungkapkan. Tiada
jawaban atas tanyaku tadi. Semakin patah, semakin berdarah, semakin sakit aku
mendengar suaramu yang kian seperti pisau yang mengores-gores perasaan, asa dan
rasa. Hatiku mati terbunuh. Hingga aku pun berani mempersilakan kamu pergi. Pergi
meninggalkan kenyataan dan kesakitan disini. Membiarkanmu menghilang dari
mataku yang terbakar air mata. Suasana malam yang menyedihkan serta memanas
sepi. Kamu pun pergi tanpa senyuman. Seluruh tubuhku lemas dan ambruk disini. Sendiri
ya sendirian. Meratapi kejadian barusan yang menolak kubenarkan. Aku di rangkul
angin yang mengasihaniku malam itu.
Malam kemarin terasa berat. Aku menunggu pagi dengan renugan
kelu. Waktu di malam itu memang berjalan sangat lambat semakin membuatku
terpukul pilu di setiap detakan detik jam dinding. Letih tak berani
menggangguku. Tetap aku bersikukuh menghabiskan malam sembari menunggu fajar
yang mengobati. Itulah malam mengesankan yang merusak kenangan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar