#Hilang Kehilangan Dan Meninggal

| Minggu, 17 Februari 2013 | |
Hilang. Aku merasa kehilangan. Rasa mendalam yang musnah, lenyap, binasa dan tiada lagi. Kamu yang dulu ada dan kini tiada. Tidak berada di sampingku lagi, tidak ada di kehidupanku lagi, tidak ada di duniaku lagi. Lebih dari itu aku tidak akan bertemu kamu dimana pun itu. Tidak di kampus, tidak di kafe, tidak di lapangan, tidak di rumah, tidak di jalan bahkan tidak akan lagi bertemu. Kamu pergi jauh, sangat jauh, lebih jauh lagi. Aku akan merindumu sehabisnya dalam waktu yang mungkin sulit terbayarkan. 

Bagaimana kamu sekarang? Baik-baik sajakah? Siapa yang menemanimu saat ini?

Aku khawatir jika kamu tak memberiku kabar. Aku gelisah jika kamu tak berada di sampingku. Aku tak tenang jika kamu mengabaikan kecemasanku. Tapi kini kuilhamni sendiri kegundahan hati yang membawaku jauh ke dalam kesedihanku. Seyakin-yakinnya aku ingin menyulap tangisan dengan keikhlasanku padamu.

Tempatmu disana. Tempatku disini. Kita saling sendiri. Kenangan antara aku dan kamu bukanlah dongeng melainkan kenyataan yang telah berlalu. Semua tentangmu; senyum, cemberut, senang, marah, melamun, sedih, dan segalanya hilir mudik dalam pikiranku. Ingin kuputar kembali kisah-kisah antara kita. Gambaran-gambarannya seperti nyata lagi. Potongan setiap nasihatmu padaku yang seringnya kuacuhkan begitu saja. Candamu yang kepayahan membuat tawaku meledak sehabisnya. Marahmu yang terbenam di dalam keterdiaman yang memberi teguran halus yang membekas sesal dan janji untuk tidak melakukan hal yang sama. Kejutan romantis yang selalu kamu suguhkan tanpa aku bisa menebaknya. Kejailanmu luar biasa menjengkelkan bahkan hobimu itu yang membuatku tak mengerti semakin aku membencimu semakin aku menghiburmu. Kamu selalu tertawa segilanya tanpa memberiku kesempatan untuk membalas. 

Kamu menyukai segala aliran musik. Karena alasan itulah aku sering memasukan lagu-lagu dengan genre apapun. Dari pop, jazz, country, rock, hiphop, R&B tak ketinggalan genre keroncong pun aku selipkan secara diam-diam ke MP4-mu. Kamu hanya tersenyum pasrah padaku dan tidak berani menghapus pilihan laguku itu karena aku tak segan-segan mencubitmu sekuat-kuatnya jika aku tau lagu pilihanku kamu hapuskan begitu saja.
Terakhir kali aku mendengar suaramu yaitu kemarin siang. Tak bisa kupercaya bahkan tak bisa kuduga ternyata itulah telpon terakhirmu. Ingin rasanya kukembali ke siang itu mungkin aku akan berlama-lama mengobrol denganmu. Yang paling kuingat di detik ke 45 ketika akan menutup telponmu  dengan halusnya dirimu berkata “aku cinta kamu”. Aku tersenyum senang mendengarnya.

Dan beberapa jam kemudian seseorang memberitahuku akan berita duka menyedihkan. Berita mengundang tangis yang tak tertahan lagi. Sesegera mungkin aku pergi menuju Rumah Sakit tempatmu di rawat. Bukan kamu yang kulihat melainkan jasadmu yang tergeletak tak berdaya di tutup kain putih. Bercak-bercak darah terlukis acak di kain putih itu bukan keindahan yang tersirat melainkan kepedihan mendalam. Luka besar serta pilu yang menganga hebat dalam hatiku. Jasadmu terkulai lemah di atas ranjang dengan kakunya. Aku menangis sejadinya-jadinya. Pedih.

Aku kehilanganmu. Kamu meninggalkan kenangan yang sangat kuat kuingat. Kuratapi dan kutatap lekat foto-foto kebersamaan kita. Sangat indah, menyenangkan sekaligus menanam energi kuat yang memengapkan kehidupan. Kamu tak sepenuhnya pergi, kurasa begitu. Setidaknya aku tak kehilanganmu sepenuhnya. Kamu selalu berada di dalam diriku tepatnya dalam hatiku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama
© Design 1/2 a px. · 2015 · Pattern Template by Simzu · © Content - Rida In Wordland -