Satu Nama
|
Minggu, 27 Desember 2015
|
Puisi
|
Malam bisakah kau mendengarku?
Suara yang keluar dari hatiku tak jua berhenti
Merancau satu nama yang sama
Memekik telinga, tak tahan dibuatnya
Suara itu didengar olehku, apakah olehmu juga, malam?
Satu nama yang tak pernah asing
Seolah Tuhan mematrinya ke tiap lapisan kulitku
Malam, bisakah kau pahami ini?
Dimana aku harus letakan sejumput asa yang merana?
Angin membawa ilusi, dinginnya memelukku tanpa nafas
Sesak rasanya mendapati satu nama yang membuat pilu
Malam, tolong jawab ini
Di malam yang mana aku tidak mengharapkannya lagi?
Di malam yang mana aku benar-benar tak merindunya?
Aku berjalan menyusuri malam ke malam berikutnya
Ditemani lampu jalan yang malas-malas menerangi
Tidak jelas ada apa diujung sana
Suara langkah kukencangkan
Harapku mampu tenggelamkan suara hati yang semakin menggila
Ternyata tidak, itu hanya membuatku benar merindu
Ingin rasanya berlari meninggalkan malam seperti ini
Namun tenagaku takkan dimampukan lagi
Malam, kutitip saja salam padanya
Beritahu aku, apakah dia masih tersenyum dengan cara yang
sama?
Apakah dia berbahagia sekarang?
Aku merindukan satu nama dengan sapanya memanggil namaku
Malam, selalu sertakan dia dalam lindungmu
Rindu ini menjadi pengantar doa-doa
Tidak ada yang bisa dilakukan
Biarkan dia seperti ini saja, bukan?
Melepaskan dia ke udara bersama rindu yang berkepanjangan
Merelakan malam berlalu tanpa jeda yang meracau namanya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar