Pupus (1)
|
Sabtu, 26 April 2014
|
Cerita Pendek - Cerpen
|
“... aku mencintaimu lebih dari yang kau tahu
Meski kau takkan pernah tahu
Baru kusadari cintaku bertepuk sebelah tangan
Kau buat remuk seluruh hatiku...”
Lagu Dewa 19 itu
mengalun tanpa jeda. Suara merdu Once terkurung ruang, menyesap diantara siluet
kenangan lalu menyelusup mulus ke dalam hati. Intan tak pernah bosan
memperdengarkan lagu itu. Merenungi liriknya, merasakan setiap nada yang
dituturkan, dan membawanya terbang tinggi kemudian jatuh mengikuti aliran
perasaan. Diulang lagi, lagi kemudian lagi tanpa mengindahkan daftar lagu yang
sedari tadi menunggu untuk diputar. Sembari berbaring memandang langit-langit
kamarnya dengan putus asa, Intan pun mengurai perasaannya dengan air mata.
Tangisnya pecah, sedih tak terasa sederhana. Di salah satu tempat, di dalam
diri Intan ada bagian yang tak rapi lagi. Sulit untuknya menata kembali seperti
semula karena segala yang ada disana telah hancur lebur. Nyaris setiap malam
Intan menyetel lagu itu, mengubah lantunan ninabobo menjadi nyanyian sendu Dewa
19. Sampai ia merasa lelah untuk bersedih, sampai ia menyerah saja untuk bermimpi
hingga iringan lagu Pupus itu terngiang-ngiang di telinga Intan, barulah ia
bisa tertidur. Dalam pejamnya, hanya satu nama yang ia temukan. Dia adalah dia
dalam lagu itu.
Satu tahun
kemudian...
Intan kepayahan menaiki
tangga demi tangga lalu meliuk-liuk menyusuri lorong-lorong kampus yang
lengang. Lantas hari sabtu, jarang ada mahasiswa yang berlalu-lalang di area
kampus. Kuliah tambahan, hal itulah yang membuat Intan memaksa diri beranjak
dari tidur agungnya. Lima menit lagi kelas dimulai, Intan tergopoh-gopoh mencari
ruang yang bertuliskan C.21. Setelah merasa lega ternyata dosennya belum datang
Intan pun beringsut di kursi sebelah teman baiknya, Dewi.
kursi sebelah
teman baiknya, Dewi.
“Abis maraton
lo?” sembur Dewi.
Intan masih sibuk
mengatur ulang nafasnya yang tersenggal-senggal.
Alih-alih tak sabar Dewi menodongnya dengan pertanyaan, “Kemaren si Redi bbm gue, nanyain elo gitu! Kalian berdua kenapa lagi sih?”
Dengan malasnya Intan pun menoleh ke arah Dewi. “Jadi elo ga mau?”
“Bukannya ga mau. Kenapa ga ngajak Redi malah ngajak gue?”
“Eh, nanti malem ke Braga yuk?” jawab Intan acuh
tak acuh, tak menggubris pertanyaan Dewi.
“Braga? Nah,
pasti ada apa-apa! si Redi uring-uringan banget, Tan! Elo itu kenapa sih? Ada
masalah?”Dengan malasnya Intan pun menoleh ke arah Dewi. “Jadi elo ga mau?”
“Bukannya ga mau. Kenapa ga ngajak Redi malah ngajak gue?”
"Senyum tipis tergambar di bibir Intan walau
terkesan dipaksakan ia berkata dengan lembut dan pelan. “Gue udah putus sama
Redi.”
“KAPAN, ONTAAA?” suara Dewi hampir membuat retak
dinding kelas. Seisi kelas menoleh ke arah mereka berdua selama sesaat.
“Ih, lebay deh lo! Tadi pagi gue putusin dia.”
Bola mata Dewi bisa
saja melonjak keluar jika tidak ada otot-otot yang mengingkatnya. “Astaga naga,
give me a reason! Padahal baru dua
minggu, Tan!”
Intan menarik nafas dalam-dalam. “Ga kenapa-napa
sih. Guenya aja yang pengen putus.”
“Ah, sarap! Redi
itu udah baik, pinter, cakep lagi. Coba terangin, kurangnya dia sebelah mana
sih?”
Sejenak mengingat,
Intan berkata, “ga ada.”
“Lah, terus? Elo tiap jadian ga pernah lama mutusin
tiba-tiba kayak gitu. Elo ga mikir perasaan mereka gimana? Gue rasa Redi udah
yang paling cocok buat lo, gue kira elo bakal awet sama dia.”
"Ya, gue emang salah. Selama ini gue nyari comfort zone-nya! Dan gue ga nemu itu
dari Redi atau bahkan dari mantan-mantan gue sebelumnya. Wi, gue bukan cewek
yang banyak nuntut, atau cewek yang minta diperhatiin ini itu, gue cuma pengen ketemu
sama orang yang bisa bikin gue nyaman! Gitu doang, tapi ya susah! Dan masalah
nyaman, ga nyaman gue sendiri yang rasain. Redi itu sempurna buat ukuran gue,
tapi gue ga bisa maksain hati gue buat nyaman bareng sama dia!” tutur Intan.
Dewi tersentak. Untuk sesaat Dewi tak mampu
berkata-kata. Intan menahan gejolak perasaan yang tadi nyaris terpancing. Dosen
yang ditunggu telah memasuki kelas. Intan dan Dewi pun sontak membetulkan
posisi duduk mereka.
Sembari menyondongkan
tubuh ke arah Intan, Dewi berbisik, “Sorri, Tan! Gue cuma heran sama lo, dan
yaaa, ga habis pikir juga sih bisa-bisanya elo mutusin Redi,” Dewi terdiam
beberapa detik, “tapi gue ngerti kok sekarang.
Yaudah, nanti malem nge-Braganya jadi ‘kan?”
Intan tersenyum
lalu mengacungkan kedua jempolnya. Dan kontan suasana kelas berubah menjadi
begitu khidmat. Dosen baru akan memberi materi perkuliahan tapi pikiran Intan
sudah lari entah kemana.
***
Pukul 23.00,
Intan sampai di rumahnya. Kantuk telah bersemayam di pundak Intan, ia tak sabar
untuk segera menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur. Baru setelah kulitnya
menyentuh seprai, Intan beringsut menarik tubuh mencapai bantal. Matanya
terpejam lalu kontan terkaget mendengar handphonenya
berdering. Intan mengeluarkan handphone
itu dengan sembrono dan menatap layarnya dengan malas: hanya terpampang nomor
tanpa nama. Intan pun membenamkan handphone
itu ke bawah selimut dan tak berniat menjawab panggilan itu. Tapi sayang,
telepon terus berdering, seolah tak memerdulikan Intan yang tak ingin diganggu.
Walau sedikit kesal bercampur penasaran ia pun menekan tombol hijau.
Awalnya tidak ada suara yang terdengar. Intan
tak berbicara sepatah kata pun, ia hanya menunggu. Lalu akhirnya si penelepon
pun menyapa Intan dengan hati-hati.
“Hallo?"
Intan berupaya
mengingat-ngingat suara itu. Sebenarnya tak perlu usaha besar untuk menebak
suara si penelepon. Tapi Intan tak percaya dan masih meragu luar biasa.
“Ya, hallo! Siapa?”
“Ya, hallo! Siapa?”
“Nomor kamu masih sama ya? Aku kira udah ganti, eh ternyata masih aktif,” si penelpon tak lantas langsung menjawab pertanyaan Intan.
Hati Intan seolah-olah jatuh ke bawah kakinya. Kaget bukan main. Ia sangat mengenal suara itu. Tak salah lagi, tak salah lagi!
“Oh ya, ini Akbar. Masih inget ga?”
Saking tak menyangka hal itu akan terjadi, Intan tak sanggup berkata apapun. Ia kebingungan. Pontang-panting mencari jawaban untuk pertanyaan sesederhana itu.
“Akbar? I-iyalah masih inget. Hmm, apa kabar ka-mu?” walau agak terbata-bata, Intan memberi syukur untuk dirinya sendiri.
“Baik. Kamu sendiri?”
Intan menelan ludah, “baik juga, Bar!"
Selama berjam-jam Akbar dan Intan saling menukar cerita. Saling mencari tahu kegiatan masing-masing. Satu tahun berlalu tak membuat mereka mati cerita. Walau awalnya Intan masih canggung bahkan kaku dan menganggap semua itu hanya halusinasi tapi akhirnya ia sadar bahwa Intan benar-benar mendengar suara itu. Cara tertawa yang selalu Intan ingat, kini terdengar lagi.
Setelah telepon itu berakhir, Intan tak sanggup memejamkan matanya. Intan khawatir setelah ia bangun di pagi hari memberinya fakta bahwa kejadian tadi hanyalah mimpi semata. Sepanjang sisa malam, ia berpikir dan bertanya. Sembari tersenyum-senyum, mengatur perasaan yang meloncat-loncat tak karuan dan merenungkan seonggok kebahagiaan yang sempat ia rasakan.
Untuk apa dia kembali? Kenapa dia kembali di saat hati gue udah tenang? Kenapa perasaan gue begitu senang sekaligus sedih? Kenapa gue ga sedikit pun marah sama dia? Buat apa dia datang seolah memberi harapan lalu pergi memilih orang lain lagi?
Hati Intan seolah-olah jatuh ke bawah kakinya. Kaget bukan main. Ia sangat mengenal suara itu. Tak salah lagi, tak salah lagi!
“Oh ya, ini Akbar. Masih inget ga?”
Saking tak menyangka hal itu akan terjadi, Intan tak sanggup berkata apapun. Ia kebingungan. Pontang-panting mencari jawaban untuk pertanyaan sesederhana itu.
“Akbar? I-iyalah masih inget. Hmm, apa kabar ka-mu?” walau agak terbata-bata, Intan memberi syukur untuk dirinya sendiri.
“Baik. Kamu sendiri?”
Intan menelan ludah, “baik juga, Bar!"
Selama berjam-jam Akbar dan Intan saling menukar cerita. Saling mencari tahu kegiatan masing-masing. Satu tahun berlalu tak membuat mereka mati cerita. Walau awalnya Intan masih canggung bahkan kaku dan menganggap semua itu hanya halusinasi tapi akhirnya ia sadar bahwa Intan benar-benar mendengar suara itu. Cara tertawa yang selalu Intan ingat, kini terdengar lagi.
Setelah telepon itu berakhir, Intan tak sanggup memejamkan matanya. Intan khawatir setelah ia bangun di pagi hari memberinya fakta bahwa kejadian tadi hanyalah mimpi semata. Sepanjang sisa malam, ia berpikir dan bertanya. Sembari tersenyum-senyum, mengatur perasaan yang meloncat-loncat tak karuan dan merenungkan seonggok kebahagiaan yang sempat ia rasakan.
Untuk apa dia kembali? Kenapa dia kembali di saat hati gue udah tenang? Kenapa perasaan gue begitu senang sekaligus sedih? Kenapa gue ga sedikit pun marah sama dia? Buat apa dia datang seolah memberi harapan lalu pergi memilih orang lain lagi?
***
“Dewi!!!!”
teriak Intan.
Ngampus pagi
adalah hal yang paling membetekan buat Dewi, untuk sekedar menoleh ke arah
suara yang sangat dikenalnya pun Dewi malas bukan kepalang.
Intan
berlari mencapai tubuh Dewi yang gempal itu lalu menggoyang-goyang, mengoyak-ngoyaknya
seperti kesetanan. “Aduh Intan! Apaan sih? Gue masih ngantuk, jalan aja
sempoyongan. Kalo bukan gara-gara mau kuis, ogah banget gue bangun pagi!”
protes Dewi sambil manyun.
“Eh,
coba tebak siapa yang nelepon gue tadi malem?” tanya Intan sumringah.
Mata
Dewi menyipit, “mereketehe! Siapa gitu?”
“Akbar!”
ucap Intan semangat.
“What? Akbar? Si Akbar? Serius? Sumpah?
Demi apa?”
Tanpa
menghentikan langkah mereka menuju kelas, Intan menceritakan semua yang
dibicarakannya dengan Akbar. Dari mulai nanya kabar, cerita soal hobi satu sama
lain yang ga berubah, ngomongin perkuliahan masing-masing dan hal-hal
bertele-tele lainnya.
“Oh
jadi sekarang Akbar tinggal di Jakarta. Sejak kapan dia pindah kesana?”
“Katanya
sih baru 10 bulanan.”
“Lo
ga nanya, sekarang dia pacaran sama siapa?”
Intan
mengerut kening, “belum saatnya deh gue nanya begituan. Yang jelas dengan dia
nelepon gue aja udah bikin seneng banget. Dari dulu gue sama Akbar kan temenan
dan ga menutup kemungkinan sekarang juga tetep temenan.”
“Yakin?
Sok tegar banget deh! Tapi kalo caranya kayak gini, dia tiba-tiba nelepon elo jujur gue khawatir! Hati-hati sama perasaan
lo! Jangan kebawa suasana! Selama ini elo berusaha moving on, nyari pengganti dia dan elo udah 99% berhasil tapi
kayaknya sekarang udah turun jadi 20%. Gue tau kok, comfort zone elo ada di Akbar, iya ‘kan?” kelakar Dewi.
Hati
Intan seakan melepuh mendengar omongan Dewi. Iya, Dewi benar tentang semuanya. Perasaan
Intan cuma buat Akbar walau bagaimana pun ia mencari cara agar berpaling tetap
saja ia bakal kembali menoleh ke arah semula. Dengan atau tanpa ada kabar dari
Akbar sekali pun, di hati Intan selalu ada tempat untuk Akbar.
“Iya,
Wi!” jawab Intan singkat.
“Gue
bukan mau halang-halangin lo! Bukan iri, tapi khawatir, iya! Gue ga mau elo
cuma dimaen-maenin aja! Di PHP-in kayak dulu, terus dia dengan santainya jadian
sama cewek lain. Ngasih harapan kosong
doang dan pergi tanpa ada penjelasan. Elo terlalu berharga buat digituin,
nyaman itu emang mahal tapi rasa sedih yang lo alamain itu lebih mahal lagi.
Gue ga mau sampe elo sakit lagi gara-gara Akbar!”
Pintu
kelas di depan mata. Mereka pun masuk, ternyata dosen sudah sampai lebih
dulu. Pembicaraan terpotong sampai disitu
saja, hati Intan terombang ambing. Ia sibuk dengan pikirannya sendiri tak
mengindahkan jam-jam bergulir di dalam kelas.
***
Sejak
malam itu, tak ada malam tanpa telepon dari Akbar. Intan selalu menunggu,
harap-harap cemas jika Akbar telat menghubunginya. Seperti biasa, ada saja
obrolan-obrolan ringan yang menyenangan diantara mereka. Segala hal, semua
topik dari yang remeh-temeh hingga politik menjadi santapan mereka. Itu dia,
itu yang dicari Intan selama ini. Bukan persoalan ada dan tidak ada, dekat atau
jauh, tapi ini tentang hati yang memilih. Untuk sekadar mengobrol saja perasaan
Intan sudah senyaman dan sebahagia ini. Namun, sejujurnya di sisi tergelap
Intan, rasa takut itu ada: takut kehilangan lagi.
“Minggu
depan aku ke Bandung. Ketemu yuk?”
Intan
terhenyak, “serius kamu, Bar?”
“Yaaa,
itu juga kalo kamunya mau. Kalo engga, ga jadi deh ke Bandungnya,” celoteh
Akbar.
Mau
apa lagi? Intan mengiyakannya dengan penuh pertimbangan. Pertahanan hatinya akan runtuh seketika,
Intan yakin itu. Apalagi pertemuan mereka akan menghancurkan usahanya selama
ini. Semua sia-sia.
Kenapa gue ga nolak? Kenapa gue begitu berharap dia
selalu ngehubungin gue? Kenapa gue ga ngerasa kapok?Kenapa gue ga bisa ngontrol
diri?
To be continued
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar