Tahu Diri

| Rabu, 30 April 2014 | |

Saat takdir mempertemukan kita, aku merasa waktu begitu baik padaku. Perkenalan yang manis, bahagia yang tak diduga-duga olehku sebelumnya. Suka hanya sebatas suka, pada awalnya. Rasa ingin tahu, memberi banyak harapan. Tumbuh dan mengembang lebih besar lagi, semakin jauh dan semakin tahu.
Mengenalmu lebih dari yang seharusnya adalah kesalahan pertamaku. Terlampau jauh, terlanjur perasaan itu jatuh di tempat yang salah. Kamu dengan segala keindahan yang Tuhan beri: sikap seramah angin di senja hari, paras seindah rembulan dipertengahan bulan dan satu hal yang paling kusuka: tawamu semerdu alunan saxofone. Ah, luar biasa. Mengagumimu semudah mengedipkan mata. Ya, terlalu sulit melawan rasa yang tak terkendali dari kagum menjadi suka. Waktu mulai menguji saat kita tak dalam jumpa: rindu itu menjadi candu.
Lalu semakin kumendekat, semakin banyak yang kutahu. Lebih dari itu, aku menyadari setiap nilai diantara kita. Lihat apa yang bisa aku lakukan untuk menarik perhatianmu? Sungguh kacau! Aku tidak sepertimu yang hanya dengan usaha kecil apapun dan siapapun bisa kamu dapat. Semakin lama, semakin aku tahu diri.
Saat kupahami, kuputuskan untuk menyerah. Menyerah terhadap harapan yang terlampau tinggi. Menyerah terhadap angan-angan kosong yang menyedihkan. Kamu berhak untuk tidak mengetahui ini. Karena perasaan ini hanya akan menjadi urusanku saja. Aku begitu biasa, senyumku tak seberapa dibanding satu senyummu kuhargai banyak puisi.
Pada akhirnya, aku yang bersedih. Betapa bodohnya aku menyukai orang semahal kamu. Pernah mengenalmu kurasa sudah cukup beruntung. Ku bergegas pergi sebelum kenyataan menghantamku lebih keras lagi dibanding sebelumnya. Aku ini apa, orang biasa yang mudah diabaikan.
Saat aku mulai menangis, terlintas di kepalaku tuk menyalahkan takdir Tuhan. Ah, aku semakin bodoh saja.
Antara kita akan selalu ada jarak. Ini akan menjadi sedihku yang terakhir. Sekarang aku berjanji untuk tidak berharap, tidak menginginkan sesuatu diluar porsiku. Walau sulit, hati ini akan kujaga baik-baik dalam diam untuk menunggu seseorang yang biasa saja. Seseorang yang seimbang dan sanggup menerima aku apa adanya.
Iya, lihat-lihat jika menyukai seseorang. Jangan memimpikan yang tidak-tidak karena pada akhirnya yang baik untuk yang baik, yang indah hanya untuk yang indah saja. Pergi sebelum disuruh pergi karena tahu diri itu sanggup menyelamatkan apa yang tersisa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama
© Design 1/2 a px. · 2015 · Pattern Template by Simzu · © Content - Rida In Wordland -