Hati Tanpa Nama

| Jumat, 18 April 2014 | |

Bicara soal hati, aku bodoh
Bicara soal hati, kusampaikan disini

Jatuh cinta. Kini hatiku telah sampai pada tahap itu. Merasa bahagia untuk hanya berpapasan. Merasa malu untuk tertangkap lebih sering saat mencuri pandang. Merasa sedih untuk merindu tanpa bisa mencari alasan agar bertemu. Merasa hampa untuk selalu menunggu sapanya dalam sesingkat pesan.
Seseorang itu tanpa nama. Perasaan ini tak pernah bisa tenang, tak ingin diam, tak mampu bersabar, tak sanggup bertingkah biasa jika seseorang itu berada dalam tangkapan penglihatan, ya, walau hanya sekedar perasaan bukan tindakan. Perasaan ini berteriak-teriak, mengoceh segala macam, berkoar sekerasnya, berpuisi kata indah, ah sayang walau dalam hati, aku dimampukan begitu saja. Seseorang itu berada disana kemudian aku melipat senyum dan berlalu tanpa ada pertanyaan: "sekarang bagaimana?".
Bayangan orang itu selalu jatuh diantara ingatan dan hati. Hadir sekelebat namun teringat selamanya. Susah bertemu juga susah melupa, itu dia seseorang yang seolah-olah membawaku ke bagian cerita Jatuh Cinta. Padahal sebenarnya bukan salah orang itu, aku saja yang berjalan sendiri, mengantarkan diri ini ke dalam cerita yang sengaja dibuat tanpa akhir.
Lenyapnya lebih cepat dibanding bunga sakura yang bermekaran di musim semi. Perginya lebih gesit dibanding burung elang yang kelaparan mencari mangsa. Hilangnya lebih mudah dibanding asap rokok yang mengepul di udara. Orang itu tak sekali pun menengok ke arah dimana aku berdiri memandangnya. Tidak pernah.
Aku tak pernah mencoba mengubah tempatku agar setidaknya ada dalam jangkauan perhatiannya. Aku diam, tak pernah berpindah atau bergerak. Orang yang membuatku tahu rasanya mencinta, tak pernah tahu bahwa dirinya juga dicinta. Hal paling berani yang bisa kulakukan adalah membisikkan sapa yang hanya bisa didengar oleh debu-debu malang yang bertebaran di udara. Isyarat selembut sutra, sehalus sinar matahari di pagi hari yang tak sanggup disadari.
Di belakang punggung orang itu aku menumpuk rasa dan kata. Menyimpan dan berharap mengirimkannya pada..... entahlah hatiku tak setangguh itu. 
Orang itu tak lebih seperti cahaya bintang yang jatuh mengenai wajahku. Menemani sesaat sepiku, lalu meluncur begitu pelan melalui rongga malam yang mulai tua. Dan setelah gelap memusnahkan diri, cahaya bintang juga lenyap dibawanya.
Mengejarnya, aku lelah.
Mendoakannya, aku lakukan.
Dalam jumpa yang terisi harap, dalam waktu yang terisi resah, dalam jarak yang terisi rindu, dalam diam yang terisi cinta; kuurai hati tanpa nama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama
© Design 1/2 a px. · 2015 · Pattern Template by Simzu · © Content - Rida In Wordland -