Hati
Sudah kuketahui sejak saat itu. Hatinya tidak lagi disini. Hatinya tak lagi berada di tempat yang sama. Hatinya sudah lari entah kemana. Hatinya takkan pernah kembali kesini.
Tapi, hatiku tak pernah beranjak. Hatiku tetap disini. Hatiku tak ingin lari. Hatiku bertahan di tempat yang salah. Hatiku bergeming walau pedih.
Cerita ini sebenarnya sederhana. Tentang seseorang yang kuberi nama "Aku" dan seseorang lagi yang biasa dipanggil "Dia". Mereka memiliki cerita yang terlalu pendek bahkan untuk sebuah memo. Tidak ada yang istimewa, seharusnya. Namun bagi Aku, hari-hari singkat yang dilaluinya untuk berceloteh hal yang menggembirakan bersama Dia menjadi daftar baru dalam kenangan yang sulit dilupakan. Itu hanya kenangan, yang seharusnya sekali-kali saja diingat tapi Aku melakukannya dengan berlebihan. Aku tak pernah berani menaruh kenangan itu jauh-jauh dari pikirannya. Aku selalu memainkan kenangan itu setiap malam sembari menumpuk harapan kosong hingga memenuhi langit-langit kamarnya. Tragisnya, tangis pun kadang diundang ke ruang hatinya. Haru, pilu dan layu.
Dan bagaimana dengan Dia? Oh, jangan harap Dia berperilaku hal yang sama dengan Aku. Dia bahkan mencintai peran yang Tuhan berikan padanya. Dia bisa menaruh hati pada siapa saja dan mengambilnya kapan saja. Tertawa, menikmati leluconnya sendiri dan berperilaku sesuka hati. Tak perlu mengingat apapun yang telah Dia katakan, karena semuanya hanyalah omong kosong. Dia suka bersenang-senang dengan cara itu.
Akhirnya, Aku tetap bersedih. Dia tetap tertawa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar