Pergi
Resa diam. Berjam-jam terbunuh percuma dan Resa masih termenung di tempat yang sama. Bibirnya terkatup, sangat rapat. Resa sedang merangkul perasaannya yang terlanjur pecah tak karuan. Memunguti tanda tanya yang memenuhi bilik-bilik hatinya yang kian suram. Tak ubahnya nafas dihempas tanpa rasa ke udara. Kemudian disesap kembali ke paru-paru yang tidak juga membuat batin Resa membaik.
Di balkon kamarnya, dibawah naungan malam yang juga tak baik, Resa beringsut di kursi kayu. Hujan mengguyur begitu lemah. Yang terasa hanya suhu merosot sangat rendah, lebih rendah dari biasanya. Gerimis yang manja, angin terbang santai melewati rambut Resa.
Di tangan Resa terselip sebuah foto. Sesekali ia menengadahkan foto itu ke wajahnya, sesekali juga ia menjauhkannya. Tapi kali ini, Resa merasa sangat kacau dan ia menatap lekat-lekat setiap detail foto itu. Disana terpotret dua orang sedang duduk berdua yang diantara keduanya nyaris tak ada jarak. Mata dan senyum mereka tertuju pada kamera yang memotret mereka. Mereka terlihat begitu bahagia, begitu menikmati moment itu. Seseorang di sebelah kanan, dengan senyum terkulum, garis wajah yang sangat dikenal oleh Resa setahun belakangan ini. Dia adalah Garin, pacar Resa. Dan seseorang di sebelah kiri yang menyandarkan kepalanya ke bahu Garin sembari tersenyum manja, lesung pipi yang manis bertengger di sisi kiri dan kanan. Tapi itu bukan Resa, perempuan disebelah Garin bukanlah dirinya.
Resa semakin diam. Semakin berpikir. Sebetulnya tak sulit untuk bisa menebak bagaimana kini perasaan Resa. Hatinya lelah, lelah berpura-pura tak peduli dengan sesuatu yang jelas ia tahu. Lelah untuk mengabaikan kebenaran yang cepat atau lambat harus ia hadapi sendiri. Lelah menjadi terlihat biasa saja padahal dalam hati Resa memahami bagaimana rasanya dipaksa mencintai. Namun Resa bersikeras mencoba, menunggu hati orang itu benar-benar diberikan padanya. Dan kali ini, segalanya pecah. Tenaganya telah habis untuk terus berusaha, terus menunggu dan terus mengemis. Resa tahu, selama ini ia begitu sangat egois pada hatinya terutama pada Garin.
Di malam itu Resa terus berpikir. Mengikhlaskan lebih dini sesuatu yang seharusnya ia biarkan pergi dari dulu. Dadanya semakin sesak, ia pun menyerah untuk menangis.
***
“Hei, sayang!” sapa Garin keesokan harinya.
Resa tersenyum tipis dan menatap sekilas ke wajah Garin. “Hei juga.”
Garin langsung duduk didepan Resa. Suasana kafe di siang itu terasa lebih lengang. Hanya ada tiga meja yang terisi. Panorama langit yang mendung, terlihat jelas dari balik jendela samping meja mereka. Udara yang lesu mengiringi keduanya.
“Tumben ngajak makan disini? Udah gajian ya, yang?” celetuk Garin.
Resa tersenyum cepat. “Ga.”
“Terus? Bukannya anniversary kita masih dua minggu lagi kan, sayang?”
“Aku tahu,” Resa menghela nafas, “Garin, ada hal yang pengen aku omongin sama kamu.”
Kening Garin mengerut. Tak biasanya Resa memanggilnya dengan nama seperti itu. “Ada apa, sayang? Lagi ada masalah?”
“Aku pikir bukan aku yang punya masalah. Tapi kita,” ucap Resa parau.
Air muka Garin berangsur serius. Alisnya terangkat dan matanya menajam penuh tanda tanya. “Kita? Ada apa sebenernya? Tell me!”
Resa menelan ludah. Ia sedikit ragu, namun ia berusaha membuang jauh-jauh rasa itu. Ia bersikukuh untuk melakukannya, mengungkapnya dan mengatakannya sekarang juga.
Resa merogoh tasnya. “Ini,” ia menaruh foto itu di atas meja dan mengesernya lebih dekat ke arah Garin. Garin terkesiap.
Keduanya diam beberapa saat. Saling menunggu siapa diantara mereka yang mampu memulai lebih dulu. Resa membisu. Garin merasa hatinya tersambar petir secara tiba-tiba. Detik-detik berlalu, Resa enggan bicara dan Garin pun terpaksa memecah suasana.
“Sayang, kamu kan tau kalo foto itu udah lama banget. Aku sama Laras udah putus dan sekarang udah ga ada apa-apa lagi. Kenapa tiba-tiba kamu ngebahas foto ini?” tanya Garin.
Resa membetulkan posisi duduknya dan menyondongkan tubuhnya ke arah Garin. “Aku bukan mau ngebahas foto itu. Tapi ini tentang aku, kamu dan dia. Aku tau, kamu sama Laras udah putus bahkan sebelum kita kenal. Tapi gimana sama perasaan kamu sama dia? Belum tentu hilang ‘kan?”
“A..apa sebenernya maksud dari omongan kamu?” Garin tak percaya dengan apa yang Resa ucapkan. Bagaimana bisa Resa menelanjanginya dengan perkataan seperti itu.
“Selama ini aku nunggu dua hal dari kamu. Pertama, aku nunggu kamu bener-bener sayang sama aku. Kedua, aku nunggu kamu jujur sama aku, kalo kamu ga pernah bisa sayang sama aku. Tapi apa? Kamu ga ngelakuin dua-duanya. Kamu pura-pura bahagia, kamu pura-pura sayang sama aku. Nyaris setahun kita pacaran, tapi yang sebenernya terjadi adalah aku ga pernah bisa nyentuh hati kamu, aku ga pernah bener-bener jadi orang yang kamu sayangin. Ayolah Garin, aku udah capek pura-pura ga peduli sama apa yang sebenernya kamu rasain,” Resa kepayahan, suaranya sedikit gentar.
Garin menelan ludah. Jantungnya seolah ditohok tongkat es hingga menancap begitu dalam. Selama ini ia kira telah berhasil menyimpan rapat kenangan dan keinginannya kembali pada Laras. Garin selalu berusaha menyayangi Resa sepenuh hati namun apa boleh buat, semakin ia berusaha malah semakin membuat hatinya rumit. Tak ada sedikit pun niat untuk menyakiti Resa, apalagi berpura-pura menyayanginya. Tapi pikiran dan hatinya masih milik seseorang di masa lalu dan tertinggal sangat lama disana.
“Dengerin Res, aku mau jelasin semuanya. Aku...”
“Udahlah, Rin! Sekarang kamu yang harus dengerin aku. Emang kamu kira aku ga tau kalo selama ini kamu sering nemuin dia, hubungin dia, nyari tau segala hal tentang dia? Apa kamu pikir aku ga tau?” sergah Resa.
“Res, a.. aku..,” Garin tergagap.
Mata Resa memanas namun ia berusaha terlihat tegar. Ia menekan semua perasaan yang nyaris meledak. “Aku sayang sama kamu, sangat. Mungkin lebih dari yang kamu tau. Aku bertahan, menyimpan segalanya sendiri. Dan nunggu kamu buat nerima aku,” lalu Resa merendahkan suaranya, “tapi hati itu ga bisa dipaksain. Kamu ngarepin orang lain, dan bukan aku orangnya. ”
Jemari Garin bergerak dan menggengam tangan Resa erat. Garin menunduk sejenak, menutup mata sembari berpikir dan merasakan hatinya. Ada rasa bersalah menyeruak, terlebih dia terdorong untuk mengatakan sejujur-jujurnya.
Garin membuka mata, menghela nafas dalam dan menatap Resa dengan berani. “Aku.., aku minta maaf, Res. Maaf kalau selama ini aku ga bisa jadi apa yang kamu mau. Aku ga bisa jadi orang yang bener-bener tulus sayang sama kamu. Aku akui, aku masih ngarepin Laras. Posisi aku sulit banget. Tapi jujur, aku selalu berusaha buat sayang sama kamu. Ini...,”
Resa balik menggengam tangan Garin. “Ini sulit. Aku tau. Kamu masih sayang sama dia tapi kamu juga ga mau nyakitin aku. Egoisnya aku adalah aku nutupin itu semua supaya kamu ga pergi. Aku terus diam, ga berusaha nanya karena aku ga mau kehilangan kamu. Tapi semakin lama, semuanya semakin buruk. Aku kira dengan berjalannya waktu kamu mau nerima aku tapi ternyata, engga. Kamu tetep sayang sama Laras. Hampir setahun kita pacaran tapi aku ngerasa baru kemarin kita saling kenal,” Resa tak mampu menahan air mata lagi, “sekarang aku lepasin kamu, Rin.”
Garin terkesiap lagi. “A.. apa? Maksud kamu?”
“Aku pengen kamu bahagia. Kalo kamu terus bareng sama aku, kamu ga akan bisa bahagia. Kejar dia, Rin! Kejar dia! Aku tahu, kamu bakal ngelakuin apapun demi balikan lagi sama Laras,” Resa pun melepaskan genggamannya, “dan aku mau berkorban. Ngebiarin kamu pergi dan mengakhiri hubungan kita.”
Kursi berderak. Garin menghempaskan punggungnya ke kursi. Nafasnya bergerak tak teratur. Bingung dengan apa yang barusan terjadi. Menimbang-nimbang hal yang sebetulnya telah ingin dia lakukan sedari dulu.
“Aku ga tau, aku harus ngomong apa.”
“Kamu ga harus ngomong apa-apa. Kamu cukup pergi dari aku dan kejar Laras. Aku ga mau bohong kalo aku bakal baik-baik aja, tapi inilah yang terbaik buat kita,” suara Resa terdengar lembut sekaligus serak.
Setelah beberapa lama Garin kembali menggenggam tangan Resa. “Aku minta maaf atas segala kesalahan yang telah aku perbuat. Kamu perempuan yang luar biasa. Aku juga mau berterimakasih atas pengorbanan ini. Aku berhutang budi sama kamu. Dan aku mau ngelakuin apapun buat ngebayar semua itu.”
“Sebenernya ada satu hal. Apa kamu mau ngelakuinnya demi aku?”
“Apapun,” jawab Garin cepat.
Hati Resa bergetar. Inilah yang selama ini ia inginkan. “Jangan pernah lupain aku.”
Wajah Garin mengeras. Sorot matanya tajam. “Tidak akan pernah.”
***
“Lega. Sangat. Membiarkannya pergi dan memutuskan tuk melepaskannya ketika sudah sejauh ini. Pernah bersamanya adalah garis hidup yang sangat aku syukuri walau hanya berjalan sementara. Ketika begitu sulit memahami kebenaran bahwa dia tidak pernah menginginkanku, bahwa bukan aku yang dia mau. Aku tidak baik-baik saja, tentu. Walau sulit, aku harus melakukannya.”
Tulis Resa dalam sebuah kertas. Kemudian dia melipatnya dengan apik. Dan menaruhnya ke dalam kardus bersama segala benda yang menjadi kenangan bersama Garin. Resa tersenyum sejenak, merasakan perubahan hatinya. Tak ada beban walau masih ada luka. Resa yakin atas keputusannya. Lalu dia berdiri, mengangkat kardus itu dengan kedua tangannya dan berniat menaruhnya di tempat yang jauh dari jangkauannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar