Kakak Dari Negeri Melayu

| Kamis, 28 Februari 2013 | |

 #AnisaBuerahoh

Hai. Apa kabar Teh Nisa? Padahal baru beberapa hari yang lalu aku bertemu denganmu. Tapi rasanya aku sudah merindukanmu bahkan lebih dari itu aku merasa kehilanganmu. Aku menulis ini terkhusus untukmu, kakakku. Tulisan yang kubuat ini sebagai tanda perpisahan sementara kita. Sebelumnya aku pernah membuatkanmu tulisan seperti ini juga namun isinya kupadukan kisah antara kita dan mereka di kost-an 57. Dengan ini aku istimewakan tulisanku untukmu, untuk kepergianmu ke negeri Gajah Putih.

Hanya enam bulan. Menurutku itu bukan waktu yang lama namun memberi kita kesempatan yang amat mungkin agar bisa mengenal satu sama lain. Teteh adalah orang pertama yang aku kenal di jantung kota Bandung. Ingat sekali, di awal pertemuan kita teteh-lah yang pertama menyapa, mengajak berkenalan dan akhirnya mengakrabkan diri. Aku memang bukan orang yang mudah menjalin pertemanan, bukan tipe orang yang luluh begitu saja pada lingkungan baru, bukan karakter orang yang gampang membaur diri dengan siapa-siapa yang belum tentu aku kenal, ya itulah aku. Manusia yang agak sulit beradaptasi dengan waktu singkat. Aku kadang menyesali kekuranganku dalam hal itu tapi dengan adanya seseorang yang menolongku menyatukan serta menemaniku sesabarnya aku merasa lebih hidup berada disini dan dia adalah kau, Anisa Buerahoh.

Aku selalu bermimpi memiliki seorang kakak. Dalam mimpiku itu adanya seorang kakak rasanya akan menyenangkan; ada yang menemani, melindungi, memerhatikan, menasehati dan menjaga. Walau dalam keinginanku wujud seorang kakak itu adalah seorang pria. Tak apa, dengan adanya teteh selama berbulan-bulan belakangan ini aku merasa memilikinya. Terimakasih telah memberiku kesempatan untuk merasakan bagaimana memiliki seorang kakak. Kakak terbaik dan paling tulus sejagat raya ini.

Setiap aku merasa sendiri, sedih, kecewa, bingung dan menangis selalu ada teteh di sampingku. Iya aku merasakannya, merasa begitu dekat denganmu. Teteh selalu berusaha membantuku bagaimanapun caranya, aku akan selalu menjaga ingatan itu. 

Kesungguhan paling kuat dan paling keras adalah ketika teteh berusaha menyelesaikan skripsi. Bagaimana tidak, status teteh sebagai Warga Negara Asing dengan beraninya mengambil jurusan Bahasa Indonesia. Perjuang demi perjuangan teteh lakukan di bantu orang-orang di sekeliling namun akhirnya segala pengorbanan itu berbuah manis. Teteh mendapat IPK tertinggi ke-3 dan siapa sangka mahasiswi berdarah melayu bisa mengalahkan mahasiswa asli Indonesia. Bukankah itu prestasi? Aku bangga padamu.

Hal lucu dan menarik tentangmu. Terkadang di tiap percakapan, teteh sering melakukan kesalahan dalam pengucapan. Banyak, ya sangat banyak. Itu lucu, tentu saja itu lucu. Cara berbicaramu yang kental sekali dengan aksen Melayu itu menjadi kenangan tersendiri untukku. Dengan waktu hampir 5 tahun berada di Indonesia sepertinya teteh pantas sekali  mendapat sepuluh jempol atas apresiasi kelancaran serta pemahaman terhadap bahasa nasional negaraku. Aneh dan paling anehnya adalah teteh tidak mahir berbahasa Thailand, ah aku bingung mengapa begitu. Kemelayu-melayuan lebih tepatnya cara mengobrol teteh selama ini. Pengalamanmu cukup banyak pernah tinggal di Malaysia dan Indonesia namun yang paling aku sesalkan adalah teteh harus kembali ke negeri asalmu, Thailand. Aku sedih tak bisa mendengar lagi suaramu, tak bisa lagi melihat senyummu, tak bisa lagi bercerita segala hal tentang kita seperti dahulu. Aku pasti akan merindukanmu. Pasti.

Perlu teteh tau, ketika teteh mengajakku berkunjung ke tempat Persatuan Thailand di bilangan Cibiru adalah pengalaman unik menurut versiku. Semua orang disana berbicara bahasa melayu yang tentu saja tak bisa kupahami. Aku ibarat tersesat di negara antah berantah dengan dikelilingi orang-orang yang berbahasa ‘aneh’. Maaf menurutku itu aneh : ). Atau ibarat menonton film luar negeri tanpa ada sedikitpun terjemahannya. Air mukaku hanya bisa tersenyum, melongo, bingung dan mungkin terlihat bodoh jikalau memerhatikan percakapan teteh dan kawan-kawan. Mereka sangat baik, ramah, bersahabat dan ‘welcome’ padaku. Semua itu terasa menarik dan unik. Benar kata teman teteh dengan berkawan serta berkenalan dengan orang yang berbeda negara itu memberi pengalaman, wawasan serta pengetahuan yang lebih luas dan besar. Aku setuju. Terimakasih telah memberiku pengalaman baru yang mungkin tak bisa kudapat dimanapun.

Alpukat. Buah yang teteh sukai. Di negeri  Gajah Putih jarang sekali di temukan buat alpukat, itu katamu. Cuaca yang amat panas membuat buah tersebut tak bisa tumbuh bahkan untuk hidup saja sulit. Sampai-sampai beberapa hari sebelum keberangkatanmu kita sengaja membeli banyak alpukat sebagai salam rindu dan salam perpisahan pada buah berkulit hijau dan cokelat itu. Lahap sekali jika kuingat cara makan teteh membabat habis buah berbiji besar itu.

Qodar? Ingatkah teteh pada satu nama itu? Ya kucing kampung kesayangan teteh. Qodar adalah sebutan bagi kucing berbulu orange dengan corak saling silang putih tak beraturan. Kucing itu sangat dimanjakan dan di beri kasih sayang penuh olehmu. Hampir setiap hari Qodar di beri jatah makan bahkan kadang teteh memberinya semangkuk kecil susu putih. Saking sayangnya aku menganggap teteh adalah ibunya, Ibu Qodar tercinta. Pesan terakhir untukmu padaku, bukannya pesan agar aku jaga kesehatan, jaga diri, atau apalah tentangku teteh malah berpesan ‘Jaga Qodar!’. Tak heran, memang tak usah heran lagi teteh adalah ibu terbaik untuknya. Siapa-siapa yang berani memarahi, menendang apalagi memukulnya maka teteh siap siaga membantai amarah pada mereka. Uh, kecerewetan teteh pasti membahana seisi kost-an jika itu terjadi. Resiko besar dan hal tercerdik yang aku dan yang lain lakukan sebaiknya menghindari hal itu.

Terlalu banyak. Sangat banyak. Cerita kita di enam bulan terakhir ini dan sayangnya aku tak bisa memaparkan setiap jengkal kisah kita disini. Detail-detail keceriaan dan kebersamaan kita begitu berarti dan aku sedih jika meyakini diri bahwa teteh telah pulang kesana. Nun jauh di negeri Thailand bagian selatan yang tak bisa kubayangkan wujudnya. Aku yakin teteh akan bahagia berada di tanah sendiri bersama keluarga besar. 

Satu bulan ke depan mungkin kita akan berjumpa lagi. Teteh akan kembali bersama keluarga untuk mengunjungi Indonesia. Di saat itulah mungkin perasaanku akan bercampur tidak karuan. Aku bisa saja merasa senang sekaligus sedih. Senang bisa berjumpa lagi denganmu dan sedih karena teteh hanya sementara berada di negeri pertiwi. Namun aku tak menganggapnya sebagai dorongan untuk membuatku kehilangan sosok kakak sepertimu lantaran teteh akan tetap, kekal dan terkenang seabadinya di hatiku. Semoga perjalananmu bisa dilalui dengan baik dan lancar. Doa terbaik dan terhebat selalu menyertaimu. Aku Rida Farida menyayangimu sebesar-besarnya tanpa batas. Selamat jalan.

1 komentar:

  1. Detik-detik kepergian teh nisa..
    semua kenangan membekas dalam setiap individu yang mengenal sosok teh nisa yang menggeregetkan...
    ia kuanggap sebagai sosok kakak,teman,sahabat,saudara itu semua karena kebaikannya kepada cuet2..
    sosok yang pastinhya tidak mudah dilupakan cuet2..

    BalasHapus

Posting Lebih Baru Posting Lama
© Design 1/2 a px. · 2015 · Pattern Template by Simzu · © Content - Rida In Wordland -