Akan Gila
|
Senin, 27 Juni 2016
|
Cerita Hati
|
Disaat seperti ini semua terasa
memburuk. Saat ingin membagi keluh kesah, saat ingin bercerita, saat ingin
mengungkapkan, saat diri merasa begitu kecil, saat orang-orang lebih beruntung,
saat dimana aku iri, saat apa yang kubutuhkan itu ternyata sulit, saat menjadi
penonton diantara panggung yang megah, saat mendengar itu manjadi hal yang
menyakitkan, saat menyadari betapa sulitnya merubah hati, dan saat-saat seperti
inilah aku merasa sendiri.
Bersyukur ternyata bukan perkara
mudah. Adakalanya aku menginginkan lebih. Begitu sempurnanya hidup orang-orang
itu. Ada keluarga yang menyemangati, ada kekasih yang memberi dukungan dan ada
teman-teman yang menjadi team hore. Paras cantik, prestasi besar, dan kaya
raya, terbekati sekali dia. Sungguh kemuliaan yang maha besar.
Kesulitan datang padanya dengan
sekejap. Melintas saja, seolah tak tega membuatnya bersedih terlalu lama. Ah,
apa dayaku yang selalu dibuntuti kesusahan. Ingin berbagi cerita pada seseorang
saja, tak ada. Aku ingin menjadi bagian yang utuh. Menemukan satu diantara
banyak peluang. Menjadi seseorang yang beruntung diantara usaha-usaha.
Aku tak punya keluarga yang
menunggu. Suasana hangat, riuh rendah, lontaran kata lembut, tawa bergantungan
diudara, makan bersama, keakraban dengan saudara, dan pelukan orang tua.
Aku tak punya kekasih yang setia
menemani. Sapa rindu, kecupan lembut, canda-canda mesra, penggangan tangan,
elusan kepala, menghapus air mata, redam amanah dengan pelukan, kata-kata “tenang,
sekarang ada aku”. Tapi sekarang tidak ada siapa-siapa.
Aku tak punya teman sejati. Tawa
keras, saling lempar bully-an, kesal sesaat, peduli, bercerita sepanjang hari,
mengelus pundak, menghibur, membentak, saling menyimpan rahasia satu sama lain
dan melakukan hal gila bersama.
Sudah lama sekali, hal itu
berlalu. Aku lupa bagaimana hati menjadi utuh. Dimana waktu begitu cepat
berlalu. Dimana ingin waktu berhenti disitu saja. Aku lupa bagaimana cara
mempercayai orang lain. Ingin berbagi tapi hati tak percaya. Ketika keluarga
mengkhianati, kekasih juga begitu, apa yang tersisa? Aku marah dengan diriku
sendiri. Kenapa harus aku? Kenapa semua hal harus benar-benar kuhabiskan dan
hasilnya tetap nihil? Pertanyaan itu berputar-putar di kepalaku hingga aku
merasa akan gila.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar