Cerita

| Sabtu, 12 September 2020
Sambungan teleponku mulai menunggu jawaban. Terdengar diujung suara sana ibuku menyapa dengan ceria. Rindu sekali rasanya, hampir seminggu ini kami saling diam dan menebak keadaan satu sama lain. Aku tidak tahan jika harus menyimpan sendiri segala keluh kesah, penat hingga harap yang juga berlarut-larut. 
Ibuku yang banyak cerita. Aku menanggapi seperlunya, kami sempat tertawa, disela-sela wejangan, tak lupa juga kabar sodara-sodaraku yang lain. Mendengar suaranya saja sudah buatku menangis. Padahal ceritaku sudah diujung tenggorokan tapi tercekat begitu saja. Tidak boleh ada kalimat kelu yang akan membuatnya tidak bisa tidur. Sedih sekali, sepertiga cerita ibuku berlanjut, ku jauhkan ponselku tuk menyeka air mata, menstabilkan suara sehingga tak terdengar tangis sesenggukan. Aku sudah dewasa, maka simpan masalahku sendiri. 
Ibuku terus menyambung cerita, pikiranku sudah berkelana entah kemana. Hingga ibuku mulai menyadari lalu bertanya, "ada apa? apa semua baik-baik saja?". Ingin rasanya kubenarkan bahwa aku tak sedang baik-baik saja. Namun akan sangat egois jika harus membebani masalahku padanya. Aku pun menarik nafas dalam-dalam, kujawab dengan payau, "aku tidak apa-apa". Hingga akhir sambungan telepon berkedip, suara ibupun sudah tenggelam, aku merasa sangat kepayahan. Malam semakin temaram hingga kutulis semuanya disini. Tidak ada yang membaik, diantara kegaduhan yang terjadi diluar sana aku masih tak menemukan terang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama
© Design 1/2 a px. · 2015 · Pattern Template by Simzu · © Content - Rida In Wordland -